Pengobatan Hipertensi Berdasarkan Algoritma JNC 7

Posted on Mei 5, 2010

1


Penyebab tekanan darah yang paling sering adalah aterosklerosis atau penebalan dinding arteri yang membuat hilangnya elastisitas pembuluh darah. Hipertensi atau tekanan darah tinggi sudah menjadi gejala umum penyakit tekanan darah di dunia. Upaya yang dilakukan selama ini adalah dengan menerapkan terapi kontrol tekanan darah. Terapi itu dilakukan pada umumnya dengan cara oral atau obat.

Namun, terapi tersebut menimbulkan pengaruh yang berbeda pada tiap orang. Karenanya, terapi kombinasi sangat diperlukan. Tekanan darah tinggi merupakan peningkatan tekanan darah yang menetap di atas batas normal. Orang dianggap menderita hipertensi bila tekanan sistolik di atas 140 mmHg (milimeter air raksa) dan atau tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg.

Kenaikan tekanan darah diastolik dipandang lebih berbahaya daripada sistolik, karena umumnya lebih menetap dan membebani kerja jantung. Untuk pengecekan tekanan darah, perlu dilakukan dua atau tiga kali pemeriksaan. Untuk satu kali pemeriksaan, dianggap tak mencukupi karena tekanan darah cenderung berubah-ubah dari jam ke jam.

Penyebab tekanan darah yang paling sering adalah aterosklerosis atau penebalan dinding arteri yang membuat hilangnya elastisitas pembuluh darah. Sebab lainnya adalah faktor keturunan, bertambahnya jumlah darah yang dipompa jantung, penyakit pada ginjal, kelenjar adrenal, dan sistem syaraf sipatis. Pada mereka yang hamil, kelebihan berat badan, stres, dan tekanan mental, hipertensi pun kerap menghinggapinya. Akibat dari hipertensi bisa beragam, seperti komplikasi pembesaran jantung, penyakit jantung koroner, dan pecahnya pembuluh darah otak.

Bahkan, hipertensi ini bisa juga menyebabkan kematian. Pengobatan hipertensi selama ini didasarkan pada penyebabnya. Penanganan hipertensi meliputi kombinasi pemberian obat, pengaturan diet, dan olahraga. Penderita pun perlu mengontrol tekanan darahnya secara rutin. Dalam langkah terapi optimal hipertensi (HOT), terdapat terapi tunggal dan kombinasi. Ternyata, dalam penelitian yang dilakukan PT Boehringer Ingelheim (PBI), untuk monoterapi dengan pengobatan tunggal, hanya efektif untuk mengontrol tekanan dengan hasil mencapai 40 persen sampai 50 persen pasien.

Responnya pun sangat rendah. Monoterapi tak cukup memberikan kontrol tekanan darah yang efektif terhadap pasien dengan berbagai faktor risiko seperti diabetes, stroke, penyakit jantung koroner, pasien lanjut usia, dan gemuk. Panduan penatalaksanaan hipertensi yang disusun WHO, JNC-VII-USA pada Mei 2003, merekomendasikan pada pasien hipertensi dengan berbagai risiko untuk mencapai target penurunan tekanan darah yang diinginkan.

Dari awal, terapi sudah dapat dimulai dengan cara kombinasi. Rekomendasi target dari panduan internasional tersebut adalah tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg bagi pasien tanpa faktor risiko, kurang dari 130/85 mmHg pada pasien hipertensi dengan diabetes atau gangguan fungsi ginjal, dan kurang dari 125/85 mmHg pada pasien hipertensi dengan gangguan fungsi ginjal dan proteinurea yang lebih dari 1 gram per 24 jam.

Terapi kombinasi sangat efektif bagi pasien angiotensin II receptor antagonist (AIIRA) dan diuretik (hydrochlorothiazide-HCTZ). Terapi ini menggunakan zat aktif dari berbagai kelas obat antihipertensi dengan efek berbeda tapi saling melengkapi. Pasien dengan terapi kombinasi, dosisnya lebih kecil daripada dosis monoterapi sehingga efek samping yang terjadi relatif juga lebih rendah. Seperti yang disampaikan oleh Prof Dr Jose Roesma PhD SpPD-KGH, tentang penggunaan pengobatan kombinasi yang rasional.

Fokusnya adalah pada pengobatan telmisartan dan HCTZ. Penyampaian ini dilakukan beberapa waktu lalu di Jakarta, dalam seminar yang diselenggarakan Boehringer Ingelheim. Keuntungan terapi kombinasi adalah adanya dua zat aktif dalam satu tablet hingga mudah dan praktis dipakai. “Sedangkan, kontrol tekanan darah lebih optimal dibandingkan monoterapi,” ujar Jose. Tak hanya itu saja. Terapi kombinasi sangat efektif menurunkan tekanan darah sistolik pada lanjut usia dan pasien dengan berbagai risiko. Keuntungan utama dari terapi ini adalah biaya terapi yang lebih rendah.

Penelitian di Eropa
Dalam penelitian yang dipimpin oleh HC Diener dengan dukungan PBI, merinci studi pencegahan stroke di Eropa. Penelitian European Stroke Prevention Study kedua (ESPS-2) ini meliputi 59 klinik dari 13 negara dengan responden sebanyak 6.602 orang. Studi ini membuktikan efektivitas kombinasi dipyridamole lepas lambat dengan ASA (acetyl salicyl acid) dalam mencegah stroke sekunder atau TIA (transiet ischemic attack).

HC Diener mengawali studi ini secara random, plasebo kontrol, dan samar ganda untuk mengetahui efektivitas dan keamanan pemberian ASA dosis rendah, dipyridamole Iepas lambat dan kombinasi keduanya. Setelah dua tahun, tim peneliti menyimpulkan bahwa ASA dosis rendah dan dipyridamole efektif menurunkan risiko stroke secara jelas (1:1.000), termasuk risiko stroke dengan kematian (1:100). Dibandingkan dengan kelompok plasebo, papar Diener, risiko stroke pada ASA, berkurang 18 persen, dan pada dipyridamole menjadi 16 persen.

Untuk terapi kombinasi keduanya, terdapat penurunan risiko stroke menjadi 37 persen. Artinya, penelitian ini menunjukkan, risiko stroke sekunder dengan kombinasi kedua pengobatan ini menurunkan risikonya dua kali lipat lebih efektif dibanding terapi tunggal dari kedua pengobatan tersebut.

Algoritma terapi hipertensi menurut JNC 7

-Modifikasi Life Style
-Tekanan darah lebih dari normal

Pilihan terapi awal
-Tanpa Compelling indication
-Disertai Compelling indication

Obat untuk compelling indication:

Antihipertensi lain (diuretic, ACEI, BB, CCB) sesuai keperluan

Hipertensi Stage 1
Umumnya Thiazide
Bila perlu pertimbangkan ACEI, ARB, BB, CCB atau kombinasi.

Hipertensi Stage 2
Kombinasi 2 obat
( Thiazid dan ACEI, ARB, BB, atau CCB )
Tidak mencapai target

Mengoptimalkan dosis atau menambah obat hingga tekanan darah sesuai target. Pertimbangkan untuk konsultasi dengan ahli hipertensi

About these ads
Posted in: Hipertensi