Definisi Dan Lingkup Farmasi Klinik

Posted on Mei 25, 2010

0


a. Definisi Farmasi Klinik
Pelayanan Farmasi klinik adalah pelayanan Farmasi yang diberikan sebagai bagian dari perawatan penderita melalui interaksi dengan profesi kesehatan lainnya yang secara langsung terkait dengan perawatan penderita.

Ruang lingkupnya meliputi pengkajian order obat, pengambilan sejarah pengobatan penderita, partisipasi dalam kunjungan ke ruangan perawatan penderita, pembuatan Profil Pengobatan Penderita (P3), Pemantauan Terapi Obat (PTO) pendidikan dan konseling bagi penderita, pelayanan informasi obat bagi profesi kesehatan, peranan dalam program jaminan mutu, Evaluasi Penggunaan Obat (EPO), pemantauan reaksi obat yang merugikan (MESO), pelayanan Total Parenteral Nutrition.

b. Pelayanan Informasi Obat

Pelayanan informasi obat meliputi kegiatan :

1. Memberikan dan menyampaikan informasi kepada konsumen secara aktif dan pasif.
2. Menjawab pertanyaan dari pasien maupun tenaga kesehatan melalui telepon, surat atau tatap muka.
3. Membuat buletin, leaflet atau tatap muka.
4. Menyediakan informasi bagi PFT (Panitia Farmasi Terapi) sehubungan dengan penyusunan Formularium Rumah Sakit.
5. Bersama dengan pelayanan kesehatan Rumah Sakit melakukan kegiatan penyuluhan bagi pasien rawat jalan atau rawat inap.
6. Melakukan pendidikan berkelanjutan bagi tenaga Farmasi dan tenaga kesehatan lainnya.
7. Mengkoordinasi penelitian tentang obat dan kegiatan pelayanan kefarmasian.
8. Melakukan kegiatan kefarmasian yaitu segala sesuai yang berhubungan dengan obat-obatan baik pengadaan, penyimpanan maupun pendistribusiannya.

c. Pelayanan Konseling Penderita

Instalasi Farmasi Rumah Sakit mengadakan pelayanan konseling penderita yang merupakan suatu proses sistemik untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah pasien yang berkaitan dengan pengambilan dan penggunaan obat. Kegiatan pelayanan ini diutamakan untuk pasien rawat jalan, karena pasien bertanggungjawab atas obatnya sendiri.

Langkah-langkah pelaksanaan pelayanan konseling obat meliputi :

1. Menghilangkan barrier (penghalang) yang ada dalam berkomunikasi antara Apoteker dan penderita yaitu :

a) Barrier risk (ruangan yang kurang nyaman, kondisi fisik pasien yang sedang sakit)
b) Barrier psikologis (tingkat pendidikan pasien, adanya rasa takut pada pasien)
c) Barrier komunikasi (verbal dan non verbal)

2. Menggunakan Metode Konseling yaitu :

a) Three Primer Question

1) Menanyakan 3 pertanyaan kunci menyangkut obat yang dikatakan oleh Apoteker kepada pasien misalnya.
2) Bagaimana penjelasan dokter tentang obat anda ?
3) Bagaimana penjelasan Dokter tentang cara pakai obat anda?
4) Bagaimana penjelasan Dokter tentang harapan memakai obat ini.

b) Show and Tell

Memperagakan dan menjelaskan mengenai cara penggunaan obat.

c) Final Verification

1) Meminta pasien untuk mengulang instruksi.
2) Untuk meyakinkan bahwa yang disampaikan apoteker tidak ada yang terlewatkan.
3) Koreksi bila ada kesalahan.
3. Memahami Kondisi Pasien, Penyakit dan Obatnya.
4. Mencari dan mengikuti terus perkembangan dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan kesehatan (penyakit dan obatnya), sehingga dapat mendukung pelaksanaan konseling yang selalu up to date.

d. Pemantauan Reaksi Obat Yang Merugikan

Kegiatan pemantauan reaksi obat yang merugikan merupakan bagian dari kegiatan Tim Farmasi dan Terapi, yang lebih dikenal dengan istilah monitoring efek samping obat (MESO). Laporan efek samping obat umumnya berasal dari ruang perawatan, laporan tersebut dikirim kepada tim MESO panitia Farmasi dan terapi untuk diverifikasi, dianalisa dan dievaluasi.

Kegiatan MESO dilaporkan oleh panitia MESO nasional untuk dilakukan tindak lanjutnya (berupa regulasi, feedback kepada pelapor.

About these ads
Posted in: Farmasi Klinik