"Jangan" Contoh Apotek Yang Tidak Memenuhi Syarat Izin Usaha

Posted on Juni 26, 2010

1


Pada kesempatan menulis kali, saya akan berbagi info seputar farmasi, khususnya tentang perkembangan berita farmasi yang update, membandingkan teori dengan fakta di lapangan. Posting ini saya buat kategori baru, yakni “Study Banding”. Maksudnya adalah membandingkan antara teori dengan yang dibuat dan sudah saya paparkan di beberapa posting terdahulu, dengan kejadian sebenarnya.

Sorotan kali ini adalah tentang perizinan apotek. Ada beberapa apotek “incaran” suku dinas kesehatan Tangerang, Banten, pada razia kali ini, pihak Dinkes menyeimbangkan antara izin apotek Retail dengan izin permhonan awalnya sebagai apotek Grosir. Ini sangat terlihat dari jumlah dan jenis obat yang diadakan oleh apotek-apotek yang terjaring Dinkes Kota Tangerang tersebut.

Berita ini dirilis oleh situs surat kabar lokal wartakotalive, dimana di rublik berita, yang berjudul “Banyak Apotek Yang Melangar Izin”, disebutkan bahwa : “Apotek itu hanya memiliki izin usaha untuk menjual obat secara ritel, tapi kenyataannya juga menjual obat secara grosir. Padahal izin itu berbeda. Maka untuk penjualan obat secara grosir kami ‘segel’ dulu,” ucap Dadang...

Nama-nama apotek yang disebutkan dalam berita tersebut antara lain : Apotek Kawijaya (Pamulang), Apotek Berkat, Apotek Apotek Prima Sehat, Apotek Ciputat. Pelanggaran besar terjadi oleh apotek Prima Sehat dan Ciputat, dimana dalam kegiatan kesehariannya tidak ada penanggung jawab teknis, yakni seorang apoteker.
Berikut adalah kutipan berita selengkapnya :

Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan (Tangsel) hari Rabu (31/3) melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah apotek. Dalam sidak tersebut dijumpai banyak apotek yang melanggar perizinan.

Rombongan sidak itu dipimpin Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Dadang, da didampingi Kepala Satpol PP Kota Tangsel, Rachman Suhendar. Dari empat apotek yang disambangi tim, ternyata hanya satu yang dinyatakan bebas dari segi pelanggaran, yakni Apotek Kawijaya di wilayah Pamulang.

Tiga apotek lainnya, yaitu Apotek Berkat di Pamulang serta Apotek Prima Sehat dan Apotek Ciputat di wilayah Ciputat, melanggar aspek perizinan. Misalnya, tim sidak menemukan fakta bahwa Apotek Berkat tidak memiliki izin usaha sebagai apotek yang menjual obat secara grosir.

“Apotek itu hanya memiliki izin usaha untuk menjual obat secara ritel, tapi kenyataannya juga menjual obat secara grosir. Padahal izin itu berbeda. Maka untuk penjualan obat secara grosir kami ‘segel’ dulu,” ucap Dadang.

Pelanggaran besar dilakukan oleh Apotek Prima Sehat dan Apotek Ciputat. Di kedua apotek itu tidak ada apoteker. Asisten apoteker yang bertugas di sana tidak memiliki izin praktik. Selain itu, izin usaha apotek itu pun tidak jelas. Kedua apotiktersebut disarankan tutup dulu sampai proses perizinan keduanya beres.

“Kesalahan yang ada tidak bisa ditoleransi. Sanksi apa yang pas untuk apotek Anda? Karena untuk main mata jelas tidak bisa, sebab saya membawa rombongan wartawan,” ucap Dadang kepada pemilik Apotek Prima Sehat.

Sang pemilik apotek hanya bisa menjawab, “Ya bagaimana baiknya saja Pak.”

Karena merasa kasihan, Dadang bersama Rachman hanya menegur dan menempel pamflet bahwa apotek itu tidak layak.

“Tidak bisa asal menutup begitu saja. Paling tidak Kami memberikan kesempatan dulu kepada mereka untuk membereskan semuanya,” ucap Rachman.

(Sumber : Wartakotalive.com)

Semoga kejadian beberapa apotek tersebut diatas, tidak terjadi pada kita sebagai pelaksana teknis kefarmasian diapotek dan pelaku bisnis lainnya dibidang kesehatan dengan niat dan kesadaran untuk memenuhi kebutuhan dan keselamatan pasien dalam menggunakan obat dan alat kesehatan.
Semoga artikel ini bermanfaat!!

Posted in: Study Banding