Apoteker Banyak Yang "Mangkir" Bekerja Di Apotek

Posted on Juni 29, 2010

0


Sudah menjadi rahasia umum, bahwa banyak dari Apoteker “Mangkir” dalam menjalankan tugas dan fungsinya di apotek. Hal ini memang di rasa tidak adil untuk pasien, dimana pasien hanya dapat dilayani ketika ia sakit di rumah sakit atau klinik oleh seorang dokter, sedangkan ketika ia “menebus’ resep di apotek, tenaga Apoteker tidak ada disana. Banyak surat kabar atau media online yang sudah membahas hal ini. Salah satu diantaranya, yang saya baca di media online kompas.com. Di artikel bertajuk kesehatan, kompas.com mengulas mengenai mangkirnya apoteker di apotek.

Di tulisan tersebut secara detail, bahwa ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), M. Dani Pratomo, sangat menyayangkan hal tersebut. Beliau mengatakan, “Banyak konsumen ternyata tidak memperoleh haknya dalam mendapatkan pelayanan kefarmasian sebagaimana mestinya. Buktinya, sulit saat ini untuk menemukan apoteker di tiap apotek. Padahal, seorang apoteker wajib hadir langsung memberikan pelayanan sekaligus melindungi masyarakat terkait penggunaan obat-obatan” Baca lengkap artikel kompas.com, disini

Banyak apotek yang memajang nama Apoteker, namun keberadaannya “diragukan”. Sebagai review untuk komunitas, apakah hal ini melanggar sumpah, janji serta kode etik Apoteker yang telah dibuat? Secara undang-undang pun, fungsi apoteker telah dijelaskan, lihat disini untuk me-review, apa fungsi apoteker menurut undang-undang.

Pemerintah sudah membenahi masalah ini dengan mengeluarkan PP 51 Tahun 2009 kemarin, mengani pembenahan praktek pekerjaan kefarmasian, namun alhasil, belum berjalan maksimal.

Bukan maksud mengadakan pembenaran, dari studi banding ini, saya berpendapat bahwa, tenaga apoteker tidak mendapatkan pelayanan yang sama dengan tenaga medis seperti dokter dalam praktek profesinya. Diantara perbedaan “kasih sayang” yang terlihat adalah : Dokter boleh melakukan praktek kerja di 3 (tiga) tempat prakteknya. Sedangkan apoteker hanya disatu tempat saja. Secara pengabdian ilmu, jelas, terlihat bahwa pembatasan ruang gerak apoteker hanya berkisar di apotek yang di tanggung jawabi saja. Juga dari sisi “income” yang didapat, dokter bisa praktek di 3 tempat, bandingkan dengan apoteker yang hanya satu tempat.

Penghargaan dari PSA yang terkadang masih membuat “tarif” yang tidak wajar kepada seorang apoteker di apotek. Bandingkan tanggung jawab yang besar, mengenai obat yang akan diberikan kepada pasien, menyangkut dosis dan nyawa pasien, hanya di gaji Rp 50-70 rb perharinya. Sungguh ironis! Dokter, untuk sekali pasien, dia mengenakan tarif Rp 50 -200 rb/pasien nya. Bayangkan, jika dalam satu hari ada 10 pasien saja, jumlah total yang dikantongi seorang dokter adalah Rp. 1 juta/hari. Jika dia praktek di rumah sakit, katakanlah dia dapat 30% nya, berarti Rp 300 rb/harinya. Dikalikan dengan hari efektif dalam satu bulan 25 hari = Rp 7,5 Juta, dikalikan 3 tempat praktek, lebih kurang Rp 20 Juta perbulannya. Belum termasuk biaya tindakan, jika ada.

Oleh karena adanya kesenjangan dalam penghargaan tersebut, maka tidak “usah” komentar, jika apoteker tidak berada di tempat, alias “Ngobjek” dilain tempat untuk minimal mengimbangi penhasilan seorang dokter.

Semoga, artikel ini bermanfaat!

Posted in: Study Banding